Minggu, 22 Mei 2016

Lagi, Sebuah Batu Peninggalan dari Almarhum Guru Mulia

Ketika dulu saya belajar mengaji bersama seorang guru dari tanah Betawi, saya juga diajarkan beberapa jurus ‘main pukulan’ (silat). Ketika kemudian beberapa orang rekan saya mengkhatamkan pelajaran main pukulan, saya tidak beruntung menamatkannya, karena saya bukan seorang yang tekun dalam belajar ilmu beladiri, meskipun saya menggemarinya. Mungkin bakat saya ada di olahraga permainan tim, seperti bola basket dan bola volley.

Ketika ‘upacara’ atau inisiasi kependekaran dari sang guru (Ustad), meskipun saya bukan lulusan yang menamatkan pelajaran main pukulan/silat, saya mendapat kehormatan untuk mendapatkan kenang-kenangan dari Ustad. Para lulusan yang lain mendapatkan baju koko dan sebilah golok, dan saya mendapatkan sebentuk batu cincin. Dilihat sekilas batu tersebut nampak kurang menarik, karena warnanya hitam legam. Ustad mengatakan bahwa batu tersebut tidak mempunyaik khasiat apa pun, namun hanya sebagai pengingat tanda kasih dari seorang guru kepada muridnya. Selanjutnya Ustad mengatakan bahwa dari dulu sampai sekarang seorang jawara selalu menggunakan atribut cincin batu akik sebagai salah satu penanda pendekar Betawi. Karena Ustad baru mendapatkan dari salah seorang muridnya, batu berlafazkan Allah (aksara Arab), maka beliau ingin memberikan beberapa koleksi batunya kepada beberapa muridnya. Saya salah seorang muridnya yang beruntung.


Ustad mengatakan pada saya bahwa batu tersebut didapatkannya dari kakeknya yang selain seorang guru ngaji juga seorang pendekar silat di tanah Betawi di tahun 1940-an, dan sang kakek mendapatkan batu tersebut dari seorang guru silat dari tanah Minang.

Beberapa tahun yang lalu, ketika ‘wabah’ batu akik melanda Indonesia, saya mengeluarkan koleksi-koleksi batu cincin saya. Dan salah satu primadona dari sekian banyak batu saya adalah batu hitam ini. Ketika saya mengganti ikatan batu tersebut, para ahli batu yang kebetulan berada di sekitar lapak mengatakan bahwa batu itu batu tua, dan jenisnya adalah Yaman Cibeet. Saat ini sudah langka keberadaannya. Secara alamiah, batuan dari jenis ini menimbulkan aura kewibawaan bagi pemakainya, sehingga banyak dipakai di kalangan pendekar silat. Konon katanya, bang Pitung pun memakai batu dari jenis ini.

Jika ada yang berminat melamar untu memiliki batu ini, saya tidak berkeberatan melepasnya, dengan mahar yang disepakati tentunya.