Jumat, 13 Mei 2016

Gelang Pemberian Para Bhiksu

Satu lagi pengalaman terkait dengan barang gaib. Mungkin saya ahlinya penarikan barang gaib, meskipun saya ngak punya ilmu yang cukup untuk melakukannya. Yang saya alami selama ini dalam memiliki barang-barang gaib adalah kebetulan-kebetulan yang mengaitkan satu hal dengan hal yang lainnya. Dan mungkin juga sebuah kebetulan, beberapa barang gaib saya dapat berpindah kepemilikan dengan ‘mahar’ atau ‘mas kawin’ yang banyak.

Pada posting sebelum ini saya kisahkan tentang sejarah sebuah batu yang saya dapatkan dari seorang ‘guru maya’, karena saya tidak pernah mengenal guru yang bersangkutan secara langsung.

Kali ini saya juga ingin menceritakan asal-usul sebuah gelang. Gelang itu saya dapatkan beberapa wiku (bhiksu) ketika saya berkunjung ke Medan. Di dalam Kereta cepat dalam perjalanan dari Medan ke Kualanamu, saya bertemu dengan beberapa bhiksu Budha, yang berpakaian abu-abu. Komunikasi dilakukan dengan Bahasa Inggris yang nyaris tidak bisa dipahami. Para bhiksu datang dari sebuah Monastery (biara) di Thailand (untung sering nonton film kungfu klasik keluaran Shaw Brothers, jadi paham arti kata monastery). Mereka baru saja berkunjung ke Pagoda di Taman Alam Lumbini, di Tanah Karo, Sumatera Utara.

Meskipun saya bukan penganut agama yang sama, saya menghormati para bhiksu ini sebagai pemuka agama, dan mereka pun memuji saya yang meskipun berlainan agama, tidak menunjukkan rasa benci atau penolakan terhadap mereka. Saya bahkan dapat sedikit berdakwah, bahwa ajaran saya menghormati pilihan hidup beragama umat lain, dan itu yang saya coba amalkan.

Di akhir pertemuan, saya memberikan sebuah gelang, yang terbuat dari Red Coral (Marjan = Karang Merah), dan saya katakan bahwa batu marjan adalah salah satu batu berharga yang disebut di dalam kitab suci kami. Sayangnya saya hanya punya satu gelang, sedangkan mereka ada 12 orang. Namun demikian mereka semua berterima kasih dan berjanji akan memberikan saya tanda mata jika kita bertemu lagi. Saya tidak begitu berharap, karena saya tidak berencana akan bepergian ke negaranya, serta kami belum sempat bertukar alamat.

Kisah pertemuan dengan 12 orang bhiksu itu tidak berakhir saat pertemuan itu berakhir. Beberapa minggu kemudian, saya mengalami sakit jantung berdebar. Kemudian saya pergi berobat ke tempat terapi akupuntur (tusuk jarum) langganan yang lokasinya ada di daerah Kelapa Gading. Sinshe yang mengobati saya mengatakan bahwa saya mengalami kelelahan akibat banyaknya pekerjaan saya saat itu. Selain meresepkan beberapa jenis ramuan, beliau juga memberikan saya sebentuk gelang. Gelang tersebut terbuat dari kayu Agathis, atau Raja Kayu Merah. Menurut Sinshe, beliau menggunakan gelang tersebut untuk terapi pasien yang bermasalah dengan organ jantung dan tekanan darah tinggi. Ternyata beliau juga menggunakan pendekatan energy, getaran dan bioritme dalam membantu pengobatan pasiennya.

Mengingat harga dari gelang tersebut yang 1,2 juta rupiah, saya mengatakan belum dapat membelinya, karena tidak membawa cukup uang. Padahal sesungguhnya, meskipun saya juga seorang yang mengamalkan pengobatan dengan pendekatan holistic, saya tidak berkeinginan membeli gelang tersebut, meskipun memberikan vibrasi yang baik dan positif. Ternyata Sinshe memaksa karena berniat memberikan gelang tersebut kepada saya. Beliau mengisahkan, beberapa waktu yang lalu beliau berkunjung ke Bangkok, Thailand untuk ziarah. Di sebuah pagoda, saat sinshe berdoa, beliau ditemui oleh 12 orang bhiksu. Mengetahui bahwa sinshe berasal dari Indonesia, mereka ingin agar sinshe memberikan sebentuk gelang kepada seseorang di Indonesia, dengan ciri-ciri tertentu. Para rahib mengatakan bahwa orang yang akan diberi gelang itu adalah ‘sahabat’ baik mereka dari Indonesia. Sebentuk gelang yang diberikan telah diberikan ‘blessing’ oleh para rahib/bhiksu tersebut.

Ketika saya memasuki ruang praktek, Sinshe merasa bahwa sayalah orang yang harus diberi gelang tersebut. Untuk meyakinkannya, Sinshe melakukan hypnotherapy pada saya dan mendapatkan konfirmasi bahwa saya pernah bertemu 12 rahib Thailand tersebut beberapa bulan yang telah lalu.


Sekali lagi saya mendapatkan barang dari sumber yang ‘gaib’, dan saya menghargai setiap pemberian, baik dari yang gaib mau pun dari entitas yang nyata. Namun, jika ada yang berminat pada benda tersebut, saya bersedia menukarnya dengan nominal yang disepakati bersama. Maharnya pasti lebih tinggi dari nilai barang tersebut, karena nilai sentimental dan historis kepemilikan benda tersebut.